Sentani 21 Juli 2013, Jemaat Bukit Tabor Dedominasi Gereja GIDI Kelasis Senja tengah Khotbah seorang pendeta terjadi keributan, akibat pendeta dalam khotbahnya menyinggung perjuangan kemerdekaan Papua Barat, yang sangat pertentangan dan merendahkan martabat perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Hal itu dikatakan Yali Bahabol kepada media ini (5/8/2013) dari rumahnya di Sentani Papua.
Yali Bahabol menghentikan khotba dari Pdt. Fredi Ayomi di Jemaat Bukit Tabor Gereja GIDI. Yali menceritakan kejadian itu, kepada media ini. Yali baru 2 kali ikut ibadah hari minggu di Gereja GIDI Jemaat Bukit Tabor, “saya dua kali ikut ibadah itu, semua pendeta di Jemaat itu tidak pernah doakan untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Papua, misi penjelamatan umat Tuhan yang dijayah bangsa Indonesia ini” kata Yali.
Yali yang ketiga kalinya mengikuti ibadah hari Minggu di Jemaat Bukit Tabor pada (21/7/2013), tepatnya pukul 09:35 wp memulai Ibadah. Yali diberi kesempatan waktu dari majelis jemaat untuk kesaksian, Yali memberi kesaksian tentang keselamatan dirinya dan mengusulkan dalam doa syafatnya berdoa untuk perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Setelah dia bersaksi kembali duduk. Majelis jemaat member waktu kepada Pdt Ayomi. Untuk khotba, Pdt. Ayomi naik mimbar membacakan dua firman dalam kitab Wahyu dan Surat Yakobus.
Kemudian Pdt, Fredi Ayomi singgung dengan kesaksian tadi usulan doa, pendeta mengatakan dalam khotbanya dari mimbar “saudara yang tadi usulkan doa itu, bagi saya pribadi tidak setuju dengan politik Papua Merdeka, karena orang tua saya dulu pernah berjuang untuk memenangkan PEPERA 1969, maka saya tidak setuju politik Papua Merdeka” kata Ayomi kepada jemaat Bukit Tabor dalam khotbanya.
Namun perkataan itu tidak terima oleh si Yali yang telah usulkan doa itu, sehingga dia ketika mendegar itu langsung berdiri dan menantang Pdt. Ayomi yang sedang khotba di mimbar.
“Bapak Pdt, Ayomi tidak layak untuk khotba, saat ini juga segerah turun dari mimbar dan duduk” tegas Yali Bahabol. Sementara ratusan orang yang ikut ibadah hari minggu di Gereja itu, panic, diam dan kaget,melihat kearah Yali.
Yali ingatkan kepada Pdt, Ayomi setelah menantang bahwa, #“apabila saya salah bicara, Tuhan dan Alam bangsa Papua kutuklah saya,# #“apabila bapak Pdt, Ayomi salah bicara di Mimbar, Tuhan dan Alam bangsa Papua kutuklah Bapak Pdt, Ayomi”#. Setelah Yali ingatkan keluar dari Gereja dan jalannya ibadah batal sekitar 10 menit namun beberapa Pdt jemaat itu kendalikan situasi dan melanjutkan khotbah hingga ibadah selesai.
Alasannya Yali, mengapa seorang Pdt, dalam khotbanya menolak permintaan dukungan doa untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Apa bedanya seorang Pdt bekerja dan pejuang kemerdekaan berjuang untuk pembebasan. Padahal kedua-duanya misi penyelamatan umat Tuhan, Pdt dan gembala juga berjuang untuk keselamatan manusia, dan menjadi guru mengajar supaya semua manusia tidak melanggar perintah Tuhan, bahaya akan jatuh dalam maut, dan harus takut akan Tuhan.
Sementara pejuang kemerdekaan bangsa Papua berjuang untuk, penjelamatan ciptaan Tuhan atas pulau Papua, dengan segala isinya manusia, hewan, hutan dll, yang sedang dimusnakan oleh Indonesia alias penjayah di tanah ini, bahkan membunu manusia atas nama misi negaranya. Namun pendeta dan gembala doakan pembunuh agar mereka terus melakukan. Kemudian korban dan orang di tahanan karena perjuangan, serta pejuang tidak didoakan, anehnya gembala dan Pdt di Papua.
Harap kepada semua Jemaat GIDI dan dedominasi Gereja-Gereja lain, yang ada di Papua. Seorang Pdt, dan gembala jemaat wajib berdoa untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Papua. Dan wajib mengunjungi semua tahanan politik Papua dan doakan mereka yang ada di tahanan kota masing-masing.
Tugas sebagai pelayan haruslah mulai sekarang jalankan. Artinya jangan ikut-ikutan dengan program pembunuh yang seenak-enakan. Kemudian melupakan tugas pelayan untuk melayani tidak ada, hal ini sedang terjadi.
Sebetulnya uang derma itu membeli sabun dan handuk untuk orang tahanan dan membeli makanan berikan kepada orang sakit di setiap rumah-rumah sakit. Ini tugas pelayan yang sebenarnya, tetapi realita sekarang, semua Pdt dan Gembala bukan lagi menjadi hamba Tuhan sedangkan menjadi hamba Uang, pikirannya saya berdoa untuk pemerintah supaya saya mendapatkan uang dari pemerintah ini cara konyol.
Pdt dan Gembala Bukan membawa umat Tuhan pada tujuan keselamatan, tetapi membawa umat Tuhan pada tuajuan maut atau kematian.







Thanks for letting me camp out in your blog for a little while today. I had a great time and tried to leave my campsite as good as when I arrived. I’ll be back!
BalasHapusor as Google's translator says, "Terima kasih untuk membiarkan saya berkemah di blog Anda untuk sementara hari ini. Aku punya waktu yang besar dan mencoba untuk meninggalkan perkemahan saya sebaik ketika saya tiba. Aku akan kembali!"