Jurnas.com | PEMERINTAH RI diminta untuk tetap waspada dengan rencana Amerika menempatkan 2500 personel Marinir (USMC) di Robertson Barracks, pangkalan udara Australia yang berada di Darwin.
Pakar Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana mengatakan, dikhawatirkan pada jangka panjang, tujuan dari penempatan pangkalan militer tersebut tidak sesuai dengan tujuan awal.
“Kalau menurut saya, kita harus kritis dan selalu waspada. Apa yang diinginkan oleh Pemerintah AS jangan sampai memang betul testing the water, tapi ke depannya nanti ternyata lain karena dia ada kendaraannya di situ,” kata Hikmahanto saat ditemui Jurnal Nasional usai menjadi pembicara Seminar Komisi Kejaksaan RI bertajuk Peran Komisi Kejaksaan RI dalam Meningkatkan Kinerja Kejaksaan, di Hotel Le'Meredian, Jakarta, Rabu (23/11).
Hikmahanto mengatakan, akan ada dua dampak atas keberadaan pangkalan militer tersebut. Pertama, hubungan antarnegara di kawasan akan seperti perang dingin. Kedua, negara-negara di kawasan akan khawatir adanya keterlibatan pihak lain dalam konflik internal mereka.
“Banyak negara-negara kawasan yang punya konflik internal itu akan khawatir, seolah ada keterlibatan Amerika, itu dampak yang harus diwaspadai, dilihat,” ujar Guru Besar Universitas Indonesia ini.
Kekhawatiran itu, lanjutnya, juga terkait kedaulatan NKRI mengingat letak pangkalan militer yang tidak jauh dari Papua. “Dubes mengatakan tidak ada (ancaman kedaulatan), tapi namanya politik, sekarang bilang apa, besok-besok bilang apa, kan gitu. Tetap menurut saya kita harus waspada, dan lebih baik kita ambil posisi waspada daripada kita terlena, kita anggap nggak ada masalah tapi ke depannya ada permasalahan di Papua,” ujar Hikmahanto.
Hikmahanto menambahkan, Presidan Amerika Serikat Barack Obama tidak mengkhawatirkan karena berasal dari Partai Demokrat. Berbeda jika Obama berasal dari Partai Republik yang akan lebih agresif. Rencana pembangunan pangkalan militer pada 2012 tersebut kemungkinan akan dibatalkan jika terdapat reaksi negatif dari China dan negara-negara di sekitar Australia. “Kalau negatif tentu rencana ini akan dicabut, kalau tidak masalah, bisa di-handle ya akan dilanjutkan,” kata Hikmahanto.
Seperti diberitakan, sebelum menghadiri KTT ke-19 ASEAN di Bali, Presiden Obama dan Perdana Menteri Australia Julia Gilard bertemu di pangkalan udara Darwin, Australia. Usai berpidato di hadapan parlemen Australia, Obama dan Gillard mengumumkan persetujuan penempatan pasukan Amerika di wilayah Australia. Reaksi keras pun datang dari China yang menilai rencana pembangunan pangkalan militer pada 2012 tersebut tidak wajar.
Berita Terkait:
http://www.jurnas.com/news/45902/AS_Bangun_Pangkalan_Militer,_Pemerintah_RI_Diminta_Waspada/1/Nasional/Politik-Keamanan
Legislator minta pemerintah waspadai marinir AS di Cocos Islands
http://www.antaranews.com/berita/391330/legislator-minta-pemerintah-waspadai-marinir-as-di-cocos-islands







Tidak ada komentar:
Posting Komentar