Jayapura. The Free Papua Movement (OPM) has claimed responsibility for the fatal shooting of an Indonesian Military (TNI) soldier, which also left a civilian dead in the Papua district of Puncak Jaya on Tuesday.
Second Lt. I Wayan Sukarta, the head of the TNI station in Puncak Jaya’s Ilu subdistrict, was traveling in a car along with two lower-rank soldiers when a group of armed men attacked them with rifles in Jigonikme village in Ilu.
They managed to contact the station for help, but Sukarta and the civilian driver of the car, who has been identified as Tono, were already dead as more soldiers arrived in the location on Tuesday afternoon.
“There were, more or less, seven attackers who carried riffles,” Papua Police spokesman Sr. Comr. I Gede Sumerta Jaya said on Tuesday.
On Wednesday, Goliath Tabuni, the commander of the OPM’s National Liberation Army (TPN), claimed responsibility for the attack.
“The shooting was done by my members, on my order,” Goliath told Suara Pembaruan. “If the TNI and the National Police wish to hunt for the shooters, then come look for me or my members, not Papua civilians.”
But he denied that his members had killed a civilian in the attack.
“My members wouldn’t recklessly shoot civilians. If the media say a civilian has been a victim, that’s a lie. The TNI may have shot civilians in this region and even throughout Papua, but we don’t randomly shoot [civilians].”
Goliath added his group had taken some guns belonging to the soldiers they attacked on Tuesday, saying, “We’re getting stronger.”
In Jakarta, TNI commander Adm. Agus Suharto said the military together with police were hunting for the perpetrators, but no additional force would be sent to Papua.
“I am concerned. We’ve lost another TNI member. This shows that although we have tried to reach out to them with welfare approach, they keep committing violence. That needs to be underlined,” Agus said. “We will evaluate our activities there”.
Rights group Imparsial, meanwhile, warned the TNI against retaliating with more violence, saying the government needed to establish dialogue with separatist groups in order to end conflict in the restive region.
“Imparsial urges police to arrest the attackers… but hopes that the government won’t use the violence to justify deployment of more troops to Papua,” Imparsial executive director Poengki Indarti said on Wednesday. “To end violence in Papua, it is time for the government to begin preparing dialogue with groups considered to oppose the government. The government shouldn’t have a phobia for dialogue because peaceful dialogue will inspire trust between each other and disentangle the problem.”
JG, Suara Pembaruan.
Indonesia: Jayapura. Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah mengaku bertanggung jawab atas penembakan fatal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) prajurit, yang juga meninggalkan tewas sipil di distrik Papua Puncak Jaya, Selasa.
Kedua Letnan I Wayan Sukarta, kepala stasiun TNI di Puncak Jaya Kecamatan Ilu, bepergian di dalam mobil bersama dengan dua tentara rendah-peringkat ketika sekelompok pria bersenjata menyerang mereka dengan senapan di desa Jigonikme di Ilu.
Mereka berhasil menghubungi stasiun untuk membantu, tapi Sukarta dan sopir sipil dari mobil, yang telah diidentifikasi sebagai Tono, sudah mati karena banyak tentara tiba di lokasi pada Selasa sore.
"Ada, lebih atau kurang, tujuh penyerang yang membawa senapan," kata juru bicara Polda Papua Kombes. I Gede Sumerta Jaya, Selasa.
Pada hari Rabu, Goliat Tabuni, komandan OPM Tentara Pembebasan Nasional (TPN), mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
"Penembakan itu dilakukan oleh anggota saya, atas perintah saya," kata Goliat Suara Pembaruan. "Jika TNI dan Polri ingin berburu untuk penembak, kemudian datang mencari saya atau anggota saya, bukan warga sipil Papua."
Namun dia membantah bahwa anggotanya telah membunuh seorang warga sipil dalam serangan itu.
"Anggota saya tidak akan sembarangan menembak warga sipil. Jika media mengatakan warga sipil yang telah menjadi korban, itu bohong. TNI mungkin telah menembak warga sipil di wilayah ini dan bahkan di seluruh Papua, tapi kami tidak secara acak menembak [sipil]. "
Goliath menambahkan kelompoknya telah mengambil beberapa senjata milik tentara mereka menyerang pada Selasa, mengatakan, "Kami semakin kuat."
Di Jakarta, Panglima TNI Laksamana Agus Suharto mengatakan militer bersama dengan polisi memburu pelaku, tetapi tanpa kekuatan tambahan akan dikirim ke Papua.
"Saya prihatin. Kami telah kehilangan anggota TNI yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kami telah mencoba untuk menjangkau mereka dengan pendekatan kesejahteraan, mereka terus melakukan kekerasan. Yang perlu digarisbawahi, "kata Agus. "Kami akan mengevaluasi kegiatan kami di sana".
Kelompok hak Imparsial, sementara itu, memperingatkan TNI terhadap membalas dengan lebih banyak kekerasan, mengatakan pemerintah perlu membangun dialog dengan kelompok-kelompok separatis dalam rangka untuk mengakhiri konflik di wilayah bergolak.
"Imparsial mendesak polisi untuk menangkap para penyerang ... tapi harapan bahwa pemerintah tidak akan menggunakan kekerasan untuk membenarkan penyebaran lebih banyak pasukan ke Papua," kata direktur eksekutif Imparsial Poengki Indarti, Rabu. "Untuk mengakhiri kekerasan di Papua, sudah saatnya bagi pemerintah untuk mulai mempersiapkan dialog dengan kelompok-kelompok yang dianggap menentang pemerintah. Pemerintah tidak harus memiliki fobia untuk dialog karena dialog damai akan menginspirasi kepercayaan antara satu sama lain dan mengurai masalah. "
JG, Suara Pembaruan
Sumber:http://www.thejakartaglobe.com/news/opm-claims-responsibility-for-fatal-shooting-of-tni-soldier-in-papua/







[…] OPM Claims Responsibility for Fatal Shooting of TNI Soldier in Papua […]
BalasHapus[…] OPM Claims Responsibility for Fatal Shooting of TNI Soldier in Papua […]
BalasHapus